Sabtu, 01 Agustus 2009

Rokok Mild Menthol dan Kesedihan

Asap mengepul... berhembus kencang keluar dari mulutku. Pekatnya menyelimuti ruangan kamarku ini. Satu pak rokok mild menthol yg kubeli kemarin malam tinggal setengahnya saat ini.
Ini adalah rokok yg kubeli ke dua kalinya di jepang sini. Rokok yg pertama kubeli 2 tahun yg lalu saat baru saja tiba di jepang, waktu itu hanya untuk iseng iseng saja mencoba jidou hanbaiki atau mesin penjual rokok otomatis, dan rokok itupun selama sebulan baru habis aku rokok, merokok hanya untuk iseng2 aja untuk mengusir hawa musim dingin yg membekukan. Namun aku tak bisa menikmati rasa enaknya merokok, karena aku memang bukanlah seorang perokok.
Tapi... saat ini aku benar benar menikmati merokok, menikmati saat saat ujung rokok ini menyelip diantara bibirku, menikmati saat2 asapnya tersedot mengalir melewati kerongkonganku dan menikmati saat2 asapnya kuhempaskan melalui hidungku.

Hmmm.. aku telah jadi seorang perokok 2 malam ini, aku jadi perokok bukan karena ingin menikmati rokok, aku jadi perokok bukan untuk gengsi gengsian, aku jadi perokok saat ini karena beban pikiran, kesedihan dan depresi yg menekan diriku.


Suami adikku meninggal beberapa waktu yg lalu dan kemudian uang depositoku dibobol orang.. musibah yg membuat aku benar benar down ketempat yg paling bawah, melemparkan aku bersama dengan asa asaku, rasa optimisme dan kebahagiaanku ke jurang yg paling dalam. Mas Bambang suami adikku adalah tulang punggung bagi keluarganya, namun dia telah meninggalkan adikku dengan dua orang anaknya yg masih kecil, satunya berumur 2 tahunan dan yg satu mau masuk kelas 1 sd. Sungguh suatu beban berat yg menimpa bagi adikku dan kesedihan itu menerobos menyusup pula dalam diriku membuat aku menangis, menyeret hari hariku dalam kesedihan. Bagiku adikku adalah diriku, bahagianya adalah bahagiaku, tawanya adalah tawaku, sedihnya adalah sedihku. Kami berdua sangat dekat sekali, kata kakakku, waktu masih kecil berusia 3 tahunan, kami pernah dipisahkan. Saat itu di terminal bis, kami yg masih kecil menangis sekeras2nya memberontak ketika tahu bahwa kami mau dipisahkan, kedekatan jiwa yg kuat telah ada waktu itu. Sampai dewasa pun kami masih sangat dekat sekali, beberapa tahun yg lalu ketika aku masih hidup hidup nge kos di surabaya, saat hari ramadhan biasanya dia datang ke kost2an ku membawa makanan utk berbuka puasa. Beberapa saat setelah dia datang, biasanya dia terus menangis. Kenapa dia kok menangis ? aku nggak tahu dan nggak pernah bertanya tentang penyebab dia menangis sampai saat ini. Mungkin karena melihat tempat kostku yg jelek dan menu makanku setiap hari yg sangat sederhana. Mungkin juga dia merasa sedih karena hidupnya sudah enak sebagai istri seorang arsitek dan kontraktor, sedangkan om nya ini, yg pernah hidup sependeritaan bersama dg dia sejak kecil masih hidup pas pasan dan menderita. Entahlah...aku tak tahu apa alasanya menangis. Yang pasti ketika dia menangis, aku juga ikut menangis.Tapi, kutahan tangisku dengan sekuat tenaga, tak ada air mata yg mengalir .. hanya rasa sesak di dada yg tertahan begitu berat. Aku mau bilang waktu itu :" sudahlah hen, nggak perlu menangis seperti itu, hidup manusia itu ada jalan nya sendiri2, hidupku saat ini memang lagi dibawah, tapi aku akan berusaha dg semangat yg pantang menyerah utk merubah hidupku utk kebahagiaan keluarga kita. Hidup akan terus berputar, kadang diatas kadang dibawah."
Tapi kata2 itu tidak pernah terucap, kata2 itu selalu terhenti oleh sesaknya dada menahan kesedihan.

Kemudian aku menjadi tersadar saat ini.... kata2 yg aku ingin ucapkan itu menjadi kenyataan saat ini. Adikku terjatuh begitu dalam saat ini, adikku sedang berada pada putaran roda yg berada di bawah saat ini. Begitu beratnya beban hidupnya saat ini, aku berdoa semoga dia kuat dan tabah menjalani hidupnya, semoga tuhan selalu membimbingnya. Aku tak akan pernah lupa semua kebaikanya, aku tak akan pernah lupa akan semua perhatianya, aku berjanji akan membantunya, membimbing dan merawat kedua anaknya sampai menjadi orang yg berguna, sampai menjadi melebihi kehebatan ayahnya : Bambang Irawan, seorang arsitek dan kontraktor yg sukses, yg mengawali segalanya dari nol, yg pernah menjadi seorang penjual es lilin, yg mengawali segalanya dg keringat,usaha dan semangat yg pantang menyerah hingga menjadi sukses. Aku ingin kedua anaknya memliki jiwa itu, pikiran2 cemerlang itu,semangat semangat itu.
Aku ingin kedua anaknya selalu tersenyum selalu di setiap harinya... aku ingin selalu melihat tawa itu ..tawa rizky ...
" pak bud..pak bud...ayo main di tepi sungai, pak bud pak bud ayo berkelahi...wakakakak!!" itulah kata yg sering terucap dari rizky, anak pertama adikku. Dan aku akan selalu terus ingin melihat tawanya dan keceriaanya itu sampai kapanpun.

Kuambil sebatang rokok lagi, dari kotak kertas warna biru ini. Kunyalakan korek api, kubakar ujungnya, kuhisap dalam dalam sampai asapnya memenuhi rongga dadaku dan kemudian kuhempaskan dengan kuat keluar hingga asapnya kembali memenuhi kamar yg remang2 ini. Kuhempasakan asap rokok itu, seperti aku mencoba menghempaskan kesedihan, depresi dan kehampaan yg menyesakkan dadaku ini.







Artikel Lain Yang Berhubungan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Dear Diary Blogger Template