Panas menyengat !!
Itulah yg pertama kali yg kurasakan waktu tiba di pantai odaeba itu. Hari itu adalah kamis malam jumat minggu kemarin, seminggu kemarin adalah NATSU YASUMI (liburan musim panas). Begitu keluar dari EKI(stasiun kereta), hawa panas langsung menyergap kulit, padahal jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Padahal aku sangat alergi dengan yg namanya hawa panas natsu ini. Keringat langsung bercucuran dg derasnya dari tubuhku yg seksi ini :), dan kemudian ku lap keringat2 itu dengan uang lembaran 10.000 yen, eh keliru...dengan baju maksudnya. Baju itu bukanlah bajuku sendiri, jorok dong itu namanya, orang tampan seperti aku masak berbuat jorok !!.
Baju yg kupakai utk mengelap keringat itu adalah:... baju milik temanku... yg sedang dipakainya !!. Yg aku tahu ini bukanlah sebuah kejorokan, tapi ini adalah sebuah kekejaman.
"Jangkrik.. !!" itulah ucapan temanku ketika dia tahu aku mengusap usapkan wajahku pada bajunya. "sory, aku lupa nggak beli tissue nih tadi. Apa kamu rela temanmu ini berkurang ketampananya karena terinfeksi oleh keringat yg berceceran di mukanya??", jawabku sambil tertawa ngakak.Inilah yg disebut dg "sambil menyelam minum air", sambil menyakiti teman, hilang keringatku.
Dari kejauhan aku melihat cahaya merah kekuning kuningan yg menjulang tinggi, berdiri tegak diantara gedung2 pencakar langit tokyo. Yup aku tahu itu adalah TOKYO TOWER, bangunan tertinggi di jepang yg sudah aku datangi 2 kali di musim dingin kemarin.
Beberapa menit berikutnya aku dan sepuluh orang temanku, sudah berada di depan replika patung liberty utk berfoto foto ria utk mengabadikan kegantenganya sendiri sendiri. Namun hasil yg didapat di layar kamera digital ini, bukanlah sebuah foto yg mirip para coverboy , tapi malah seperti penampakan para genderuwo di kegelapan malam. Aku kecewa sekali, aku marah sekali pada kamera ini.... kuangkat kamera ini tinggi dan siap2 aku lemparkan ke pantai. wuiihh.. kamera digital mahal seperti itu mau dibuang? berarti aku kaya raya dong punya banyak uang !!.
Bukan...!! bukan itu alasanya, bukan karena aku kaya raya, tetapi karena kamera itu.. milik temanku !!. He.. he..he .. kalau kamera milikku sendiri masih berada di tas dan aku nggak mungkin akan melempar2kanya begitu saja dong.
" wooiii.. mau apa kamu bud, kok kameraku kamu angkat seperti itu?" tanya temanku.
" enggak ada apa apa kok, cuma sedikit berfantasi aja tadi, he..he.." jawabku.
Satu jam kemudian, perut kami keroncongan minta diisi sesuatu yg enak. GYUDONG !! itulah yg aku ucapkan pada teman2ku. Gyudong adalah masakan jepang favoritku, karena rasanya mirip sekali dengan daging bumbu bali yg biasa aku makan di indonesia dulu. Selanjutnya, di malam yg panas itu kami menuju tsunomiya, toko penjual gyudong yg biasa kami datangi kalau kami berkunjung ke odaeba ini. Di jalan masih banyak orang berlalu lalang, di sebuah bangunan semacam warung makan, aku sempat melihat beberapa wanita jepang yg duduk dengan kimono musim panasnya memberikan senyumnya kepada aku dan beberapa temanku.
Aneh...tidak biasanya wanita jepang berbuat seperti itu pada orang asing yg tidak dikenalnya. senyum itu senyum genit, senyum itu mengundang,senyum itu senyum misteri.
Hmmm, mungkin mereka adalah pramuria, atau apalah aku tidak tahu, kehidupan malam jepang memang penuh kegermelapan, kebebasan dan misteri.
Kulangkahkan cepat2 meninggalkan tempat itu, aku tidak ingin tahu arti senyum itu, aku bukanlah lelaki hidung belang, karena memang hidungku tidak belang. Aku bukanlah buaya darat, karena aku manusia, makhluk hidup golongan mamalia dan berjenis omnivora, yg berkembang biak dengan melahirkan. Lha kalau buaya kan dari golongan
reptilia, jenis karnivora dan berkembang biak dg bertelur.walah.. malah kayak pelajaran biologi aja. Jadi kesimpulanya adalah aku memang manusia, bukan buaya darat (buaya yg jalan2 di darat).
Akhirnya sampailah kami di dalam toko gyudong ini. Seorang pelayan laki2 yg gendut, mendatangiku dan kemudian bertanya: "nani o tabemasuka? (makan apa?)", "kore desu! (yg ini!)" jawabku sambil jariku menununjuk ke sebuah gambar gyudong dengan segala makanan pelengkapnya. Kemudian dia bertanya lagi: "yieieofhhfhdhhubbb?". Aku tidak bisa menjawab, karena aku memang tidak mengerti arti pertanyaanya, kucoba berpikir keras, sepertinya tadi kok bukan bahasa jepang ya. Kucoba bertanya lagi: "mou ichido onengaishimasu!", kemudian di menjawab:"hfkhkdhkhubhdiohdk?"
Waduh stress aku ! perut lapar seperti ini malah dikasih masalah yg mbulet. Kalau aku lapar terus nggak cepet2 dikasih makan, sangat berbahaya sekali, beberapa tahun yg lalu aku pernah mengobrak abrik satu batalyon polantas dan densus88, karena menyetop laju sepeda motorku, padahal waktu itu perutku lapar dan tergesa gesa mau pergi makan ke warung tempe penyet.
Tidak sabar menunggu aku yg plonga plongo, pelayan itu mengulangi pertanyaanya sekali lagi:"hfhdybdksoidsdbi?". Akhirnya daripada bingung2 aku jawab: "Haik...nan demo ii desu! (apapun okey!)". "Haik...nan demo ii desu! adalah jurus andalan/ kata pamungkas yg aku ucapkan kalau aku tidak mengerti apa yg diucapkan oleh orang jepang. Dan jurus andalan itu ternyata kembali aku keluarkan lagi disini. Setelah mendengar jawabanku, pelayan itu pergi dan kemudian berbincang2 dengan temanya. Gubrakkk !! dia berbicara dg temanya memakai bahasa china, oaaallaaahhh.. ternyata orang itu tadi bukanlah orang jepang, tetapi orang china, makanya bahasa jepangnya amburadul dan logatnya lain sekali. Sampai saat ini aku memang tidak bisa membedakan antara orang jepang, korea dan china. Face style mereka mirip sekali.
Beberapa menit kemudian gyudong ini habis aku makan sampai bersih, bahkan magkok wadah gyudong ini benar2 bersih sampai nggak perlu lagi di cuci kayaknya... (nggragas : mode on). Tiba tiba saja dua orang cewek indonesia masuk ke toko ini bersama seorang temanku. Berarti ini dua orang cewek indonesia yg janjian mo kopi darat dengan salah satu orang temanku.
Sambil menanti salah satu temanku dan dua orang cewek kenalanya yg lagi makan, kami duduk2 disamping depan toko gyudong itu. Beberapa saat kemudian, datanglah seorang keisatsu (polisi). Kemudian dia menasehati kami sambil tersenyum, supaya kami tidak duduk2 disamping depan toko itu. Memang betul kami tidak boleh duduk2 disitu. Dalam kebiasaan masyarakat jepang, jika kita duduk di depan atau disamping sebuah toko, maka artinya kita sedang mengantri utk masuk ke toko itu. Jadi kalau aku dan teman2ku duduk disamping toko itu, maka orang2 jepang yg mau makan disitu pasti nggak jadi masuk, karena mengira orang yg mengantri begitu banyaknya. Untunglah pak polisinya cuma mengingatkan sambil tersenyum. Kalau di indonesia, cara mengingatkanya pasti disertai dengan tendangan, kata kata yg kotor dan pentungan, seperti yg dilakukan oleh para oknum polisi dan satpol PP shit stupid itu.
Jam digital di hp ku menunjukan pukul 1 malam ketika aku sampai di tepian pantai odaeba ini. Aku dan enam orang temanku memisahkan diri dari beberapa temanku yg bersama dua cewek indonesia itu. Hmmm... berani sekali dua orang cewek itu, di malam hari bersama lelaki2 yg baru dikenalnya. Begitu percayanya mereka berdua pada teman2ku. Untunglah, kami adalah orang2 yg baik dan bermoral, yg tidak mungkin akan melakukan hal hal yg tidak terpuji.
"sudah pukul 1 malam nih, mau tidur dimana kita?" tanya seorang temanku. "tidur dipantai ini aja bro, sekali kali jiwa petualang kita harus kita hidupkan. Pasti akan sangat berkesan dan terkenang selalu dalam memori, kalau kita pernah tidur di pantai odaeba sambil melihat gedung2,langit dan bulan diatas tokyo walaupun hanyalah ditemani oleh kecoa kecoa seperti kalian !!!", Jawabku. "setujuuuuuuu..!!!", jawab teman2ku. wah, berarti mereka setuju dong kalau dibilang kecoa.
Minggu, 16 Agustus 2009
Suatu Malam di Pantai Odaeba
di posting
budisetiawan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar