Hari ini aku membuat sate ayam untuk menu berbuka puasaku. Belum dua suap masuk ke dalam perutku, rasanya sudah eneg, nggak ada rasa nikmat yg kurasakan. Padahal bertahun yg lalu ketika aku masih SD, kalau ibuku mendapat rezeki nomplok biasanya beliau membelikan aku sate yg bila aku makan rasanya terasa enaakk banget. Dua sunduk sate untuk teman makan satu piring penuh nasi putih. Aku masih menyimpan dengan jelas memory itu, memory tentang sensasi lezatnya makan di waktu kecilku, makan tahu, tempe dan kalau ibuku duitnya nipis biasanya aku cuma makan lauk kerupuk puli/ orang kediri menyebutnya "opak puli" (kerupuk yg dibuat dari nasi sisa yg dtumbuk halus, dibentuk seperti lontong kemudian diiris tipis tipis dan dikeringkan. Setelah kering kemudian digoreng lagi. "opak puli" merupakan lauk makan bagi masyarakat yg hidupnya pas pasan seperti orangtuaku waktu itu). Makan sederhana seperti itu rasanya tetap enak sekali, selalu habis tak tersisa satu piring nasi yg disuguhkan oleh ibuku.
Tapi kenapa akhir akhir ini aku tak bisa merasakan rasa lezat dari setiap makanan yg aku santap ?
Kucoba coba mencari jawabnya dalam seonggok otak kecilku ini, kemudian aku teringat pada sebuah ucapan dari guru agama SMP ku, bahwa kebahagiaan dan rasa enak itu bersumber dari hati. Jika hati kamu bahagia dan tentram, maka apapun yg kamu makan itu akan terasa enak". Itulah sebaris kalimat nasehat guru agamaku yg aku abaikan begitu saja waktu itu. Mana mungkin sih makan sate, ayam panggang dan makanan enak yg lain akan jadi terasa nggak enak kalau hati nggak bahagia? nggak mungkinlah !!", pikirku waktu itu. Mau dalam kondisi apapun makan sate ya rasanya tetap sate yg enak.
Tapi akhirnya waktu mematahkan argumenku itu
Minggu, 13 September 2009
Kebahagiaan Itu dari Hatimu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar